Modal 5 Ayam, Suciati Wujudkan Mimpi Bangun Masjid Megah di Yogya

“Saya sejak SMP sudah jualan ayam awalnya lima ekor di Pasar Terban. Sejak SMP saya memimpikan membangun masjid,” ujar Suciati di masjid yang dibangunnya (28/5).

Waktu itu, dengan membonceng sepeda onthel ibunya, pukul 06.00 WIB, ia berangkat ke Pasar Terban untuk menjajakan ayam yang telah disembelih ayahnya itu. Baru setelah itu, ia langsung menunaikan kewajibannya menuntut ilmu.

“Pagi bapak yang menyembelih. Nanti saya bawa ke pasar. Pukul 07.00 WIB habis ndak habis saya ke sekolah. Kalau enggak habis saya jual ke ibu-ibu dosen UGM karena dulu enggak ada freezer. Kulkas itu barang mewah, saya juga nunut (nitip) di ibu-ibu dosen UGM,” kisahnya.

Hingga lulus SMP, sudah ada 15 ekor ayam yang berhasil ia jual. Usahanya tersebut terus berlanjut hingga ia menempuh pendidikan di STM Kimia Jetis dan mampu menjual 70 ekor ayam.

Usahanya semakin meningkat setelah ia menikah dengan seorang pegawai Dinsos, Saliman Riyanto Saharjo. Tidak hanya mengajarinya berbisnis, sang suami pun akhirnya ikut terjun berdagang ayam.

“Suami ngajarin saya bikin kartu nama, bikin selebaran untuk diselipkan di koran-koran,” kenangnya.

Menjadi pedagang ayam sendiri sebenarnya sudah lama menjadi pilihan hidup Suciati setelah mendapat nasihat dari sang nenek. Ia juga berusaha menerapkan falsafah Jawa, ‘urip iku urup’ yang berarti hidup itu memberi manfaat sebanyak-banyaknya ke sesama.

Kini, dari lima ekor ayam, Suciati telah memiliki 1.300 karyawan dengan dua pabrik di Sleman dan Jombang, Jawa Timur. Dari sanalah, lebih dari 100 ton ayam potong diproduksi setiap harinya.

“Pabrik nugget dan sosis juga ada. Segmennya di Indonesia Timur, jadi wilayah ambilnya di Jombang juga,” tuturnya.

Meski telah sukses, masih ada cita-cita Suciati yang saat ini masih belum terlaksana. Suciati, ingin membangun masjid. Lebih tepatnya, ia baru memantapkan cita-cita itu usai kembali dari ibadah haji.