Pernah Ngerasa Ga Kadang Keluarga Terdekat Justru yang Melukai Hati Kita Begitu Dalam

Singkat cerita, kakekku menikah lagi, dengan seorang perempuan muda hingga mempunyai anak. Lalu, bagaimana nenekku? Nenek menderita gangguan jiwa dan tinggal di rumahnya sendiri ditempatkan persis di ruangan belakang dekat dengan dapur, melakukan aktivitas layaknya bukan seorang istri sah kakek. Kemudian terdengar kabar bahwa kakek meninggal, harta kakek dimiliki sepenuhnya oleh istri mudanya, dan nenek? meninggal dalam keadaan menderita gangguan kejiwaan.

Lalu, ayah? Seorang laki-laki kecil itu memiliki cukup harta warisan kakek, namun karena masa mudanya tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, ayahku ikut serta dengan paman. Beranjak dewasa ayah lebih senang menjadi gelandangan, untuk mencukupi kebutuhan, ayah lebih memilih menjual rumah, tanah peninggalan kakek, berbagai barang pun dijualnya untuk menyenangkan dirinya di masa muda, mencari jati dirinya. Ayah merupakan seorang pekerja seni, singgah dari satu tempat pemutaran film satu dan lainnya menjadikannya lihai di dunia perfilman, sayangnya ayah tidak mendapatkan akses pendidikan sejak ditinggal kedua orang tuanya. Lebih tepatnya tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya mendapat pendidikan formal dan diberikan akses pengajaran oleh para guru.

Mari beranjak cerita ke ibuku. Orang tua dari ibuku juga cukup terpandang di Beber, Cirebon. Bagaimana tidak, kakek dari ibuku begitu disegani. Ibu yang merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga sangatlah dimanja. Memiliki akses pendidikan, hanya nasib kurang beruntung padanya. Ibu hanya mengenyam bangku sekolah hingga jenjang sekolah dasar. Bagaimana nilai-nilai di sekolahannya? Sangat memuaskan, bahkan sampai detik ini aku masih memegang rapor ibu untuk membantuku mendaftarkan ibu pada program kejar paket kesetaraan B, dan C.