Tolak Uang Rp10 Miliar, Kakek Suhendri Pertahankan Tanahnya Jadi Hutan Kota

Memulai Tanam Kopi

Suhendri membeli lahan pada tahun 1979 dari seorang warga. Sebelumnya dia adalah pekebun yang memanfaatkan lahan tidur milik orang lain.

Sejak itu, Suhendri sudah punya konsep masa depan lahannya. Dia juga Menyusun rencana dengan sangat baik untuk mewujudkan cita-cita agroforestry.

“Saya tanami dulu palawija untuk membantu kehidupan ekonomi saya. Agroforestry itu agronya dulu atau ekonominya dulu, baru forest-nya,” sebutnya.

Dia pernah menanam seribu pohon kopi. Tanaman itulah yang kemudian menghidupinya di atas lahan tersebut.

“Saat pohon sudah tinggi, kopi tidak lagi berbuah. Jadi saya tebang kopinya,” katanya.

Lantas dari mana Suhendri mendapatkan pemasukan? Saat hutan sudah lebat, dia mengubah lahannya menjadi lokasi wisata. Di beberapa titik di bawah rindangnya pohon, Suhendri membangun gazebo. Di padepokan yang terletak di bagian depan, perantau dari Sukabumi, Jawa Barat ini membangun tempat santai untuk pengunjung.

Tak ada tarif khusus. Dia memberi keringanan kepada pengunjung untuk membayar sesukanya.

“Bagi saya itu sudah cukup, yang penting tidak lebih besar pasak dari pada tiang,” tambahnya.

Pemasukan lain yang didapat Suhendri adalah dari memanfaatkan Pohon Damar. Selain itu dia juga menanam teh di bagian belakang hutan.

“Kalau mau ke kebun teh harus masuk hutan dulu,” sebutnya.

Di setiap obrolan, Suhendri selalu menekankan bahaya pemanasan global. Wawasan lingkungannya sangat luas.

Jika orang lain sering berkampanye soal konservasi, Suhendri sudah menerapkan dan menjadi konsep hidupnya. Dia mengingatkan siapa saja untuk terus menjaga lingkungan mulai dari halaman rumah masing-masing.

“Minimal tanam pohon yang bisa bikin sejuk,” katanya.